Al is de leugen nog zo snel, de waarheid achterhaalt haar wel.

Ya, mungkin kebenaran pada akhirnya akan mengejar kebohongan.

Tetapi dalam masyarakat digital, kebohongan sudah memiliki kendaraan berkecepatan tinggi.

Iklan

Ia bergerak melalui algoritma, bot, influencer, clickbait, potongan video, deepfake, dan jejaring sosial.

Karena itu, kita tidak boleh hanya menunggu kebenaran mengejar kebohongan.

Kita harus membangun institusi yang membuat kebenaran mampu bergerak lebih cepat.

Hukum harus memastikan bahwa kekuasaan tunduk pada bukti dan prosedur.

Politik harus kembali menempatkan kebijakan dan fakta di atas manipulasi persepsi.

Media harus mempertahankan verifikasi sebagai fondasi jurnalisme.

Universitas harus menjaga kebebasan akademik dan integritas ilmiah.

Sekolah harus mengajarkan literasi digital, literasi media, berpikir kritis, dan keberanian moral.

Dan masyarakat harus belajar satu disiplin sederhana tetapi fundamental:

Jangan percaya hanya karena sesuatu terdengar meyakinkan. Periksa sebelum menyebarkan.

Sebab pada akhirnya, persoalan terbesar bukan apakah kebohongan akan kalah.

Persoalan terbesar adalah:

Berapa banyak orang harus menjadi korban sebelum kebenaran akhirnya tiba?

Pepatah Sahetapy karena itu bukan sekadar kalimat penghiburan bahwa kebenaran pada akhirnya menang. Ia seharusnya menjadi panggilan etis bagi hukum, politik, pendidikan, media, akademisi, dan seluruh warga negara untuk mempercepat jalan kebenaran.