Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
ADA ungkapan yang sederhana, tetapi selalu memiliki daya untuk menggugah ingatan: Mai Fali E. Bagi orang Rote, ungkapan ini tidak sekadar menunjuk pada tindakan kembali ke suatu tempat. Di dalamnya ada kerinduan, ikatan keluarga, tanah kelahiran, identitas, dan panggilan untuk tidak melupakan dari mana seseorang berasal.
Saya sering membayangkan, bagaimana jika Mai Fali E tidak kita pahami hanya sebagai ajakan untuk pulang secara fisik?
Bagaimana jika ia kita baca sebagai sebuah panggilan moral: pulang untuk memberi kembali apa yang telah kita terima?
Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika anak-anak Rote semakin banyak yang menempuh pendidikan di luar daerah, bekerja di kota-kota besar, bahkan membangun karier di berbagai negara. Mereka pergi untuk belajar, mencari pengalaman, membangun kehidupan, dan mengejar masa depan.

Tidak ada yang salah dengan pergi.
Justru, anak-anak daerah harus berani pergi sejauh mungkin. Mereka harus melihat dunia, belajar dari berbagai tempat, menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan berbagai kompetensi yang dibutuhkan zamannya.
Yang perlu kita pertanyakan adalah: setelah mereka pergi dan berhasil, apa yang kembali kepada tanah asalnya?
Di situlah Mai Fali E menjadi relevan.
Pulang Tidak Harus Kembali Menetap
Ada kecenderungan memahami “pulang” secara harfiah: kembali ke kampung halaman, tinggal di sana, bekerja di sana, lalu selesai.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan