Tidak semua kerusakan dapat dipulihkan hanya karena kebenaran akhirnya terungkap.

Seseorang dapat kehilangan reputasi karena tuduhan palsu.

Sebuah institusi dapat kehilangan kepercayaan.

Iklan

Karier seseorang dapat hancur.

Sebuah kebijakan publik dapat terlanjur dilaksanakan.

Masyarakat dapat terlanjur terpolarisasi.

Generasi muda dapat telanjur membentuk persepsi berdasarkan informasi yang salah.

Karena itu, kita tidak boleh terlalu romantis terhadap gagasan bahwa “kebenaran pada akhirnya akan menang”.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apakah institusi negara, media, pendidikan, dan masyarakat sipil telah membangun mekanisme yang memungkinkan kebenaran hadir sebelum kerusakan menjadi permanen?

Ini adalah pertanyaan yang jauh lebih serius.

Kebenaran Membutuhkan Keberanian

Kebenaran tidak selalu kalah karena ia tidak memiliki bukti.

Kadang-kadang kebenaran kalah sementara karena orang-orang yang mengetahui kebenaran memilih diam.

Dalam konteks ini, krisis kebenaran sesungguhnya juga merupakan krisis keberanian.

Keberanian akademisi untuk mengatakan bahwa data tidak mendukung sebuah klaim.

Keberanian jurnalis untuk memeriksa fakta meskipun hasilnya tidak populer.

Keberanian hakim untuk memutus berdasarkan hukum dan bukti.