Demokrasi yang sehat membutuhkan kebenaran yang dapat diperiksa, bukan sekadar opini yang dapat diulang.

Pendidikan: Benteng Terakhir Melawan Kebohongan

Di sinilah pendidikan memperoleh posisi strategis.

Jika politik memproduksi narasi dan media digital mempercepat distribusinya, maka pendidikan seharusnya membentuk manusia yang mampu bertanya:

Iklan

Apa buktinya?

Siapa sumbernya?

Bagaimana data diperoleh?

Apakah informasi ini dapat diverifikasi?

Apa yang sengaja tidak dikatakan?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut sesungguhnya merupakan inti dari critical thinking.

Menariknya, kebijakan pendidikan Indonesia sendiri kini secara eksplisit menempatkan pembelajaran mendalam (deep learning) sebagai pendekatan yang mendorong pemahaman konseptual, berpikir kritis, refleksi, serta penerapan pengetahuan dalam konteks yang berbeda. Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 juga memperkenalkan Koding dan Kecerdasan Artifisial sebagai mata pelajaran pilihan secara bertahap. (Kemendikdasmen⁠).

Namun terdapat paradoks.

Kita sedang memasuki era ketika peserta didik dapat memperoleh jawaban dalam hitungan detik melalui kecerdasan artifisial, tetapi kecepatan memperoleh jawaban tidak identik dengan kemampuan mengetahui apakah jawaban tersebut benar.