Karena itu, pendidikan masa depan tidak cukup mengajarkan how to access information. Pendidikan harus mengajarkan how to interrogate information.

Lebih dari itu, pendidikan harus mengembangkan apa yang dapat disebut sebagai literasi epistemik: kemampuan membedakan fakta, opini, interpretasi, propaganda, disinformasi, misinformasi, dan pengetahuan yang telah melalui proses verifikasi.

Sekolah dan universitas tidak boleh hanya menghasilkan manusia yang pintar menjawab soal. Mereka harus menghasilkan manusia yang berani mempertanyakan klaim, mampu memeriksa bukti, dan memiliki integritas untuk mengatakan “saya tidak tahu” ketika bukti memang belum cukup.

Iklan

Ironi terbesar: pendidikan mengajarkan kejujuran, tetapi institusi dapat mengajarkan sebaliknya.

Di sinilah kritik harus diarahkan lebih dalam.

Anak-anak diajarkan untuk tidak menyontek.

Mahasiswa diajarkan untuk tidak melakukan plagiarisme.

Peneliti diwajibkan menjaga integritas akademik.

Guru mengajarkan kejujuran.

Namun seluruh pesan moral itu dapat kehilangan makna apabila peserta didik menyaksikan praktik sosial yang memperlihatkan bahwa kejujuran tidak selalu mendapatkan penghargaan, sementara manipulasi kadang justru menghasilkan kekuasaan, jabatan, keuntungan, atau popularitas.