Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Keberanian guru untuk mengajarkan berpikir kritis.
Keberanian mahasiswa untuk bertanya.
Keberanian warga negara untuk tidak membagikan informasi sebelum memeriksa kebenarannya.
Dan yang tidak kalah penting: keberanian penguasa untuk menerima kritik tanpa menganggap setiap kritik sebagai permusuhan.
Sebab kekuasaan yang sehat bukan kekuasaan yang tidak pernah dikritik, melainkan kekuasaan yang mampu hidup bersama kritik.
Dari post-truth menuju masyarakat yang menghargai kebenaran.
Indonesia tidak kekurangan orang pintar.
Indonesia juga tidak kekurangan informasi.
Yang perlu terus diperjuangkan adalah budaya epistemik yang menghargai kebenaran.
Masyarakat perlu belajar bahwa viral bukan berarti benar.
Mayoritas bukan berarti benar.
Pernyataan pejabat bukan otomatis benar.
Pernyataan akademisi bukan otomatis benar.
Pernyataan tokoh agama bukan otomatis benar.
Bahkan sesuatu yang sesuai dengan keyakinan kita belum tentu sesuai dengan fakta.
Kebenaran membutuhkan proses.
Ia membutuhkan bukti.
Ia membutuhkan keterbukaan terhadap koreksi.
Dan karena itu, demokrasi membutuhkan warga negara yang tidak hanya bebas berbicara, tetapi juga bertanggung jawab terhadap kebenaran dari apa yang dibicarakannya.
Epilog: Biarkan Kebenaran Berlari
Pepatah Belanda itu akhirnya perlu dibaca kembali dalam konteks zaman digital.






WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan