Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Akses terhadap pendidikan tidak lagi setara, sebab sangat ditentukan oleh letak geografis dan kondisi sosial ekonomi. Anak-anak yang lahir di wilayah dengan fasilitas yang terbatas, harus berjuang lebih keras untuk sampai ke ruang kelas.
Pada beberapa ruang diskursus, pendidikan disebut sebagai jalan untuk membebaskan. Namun, di wilayah ini, pendidikan justru menjadi ruang yang memperlihatkan ketimpangan yang ternyata. Sekolah bukan lagi sekadar ruang belajar, tetapi arena yang secara diam-diam menyeleksi: bukan siapa yang paling pintar, melainkan siapa yang mampu bertahan dalam keterbatasan.
Potret ini menunjukkan satu hal mendasar: ketimpangan wilayah menentukan siapa yang bisa mengakses pendidikan, dan siapa yang tertinggal sejak awal.
Akses Terbatas, Kualitas menjadi Dampak
Ketimpangan akses tidak berhenti pada partisipasi, tetapi berdampak langsung pada kualitas pendidikan. Data kualitas pendidikan di Nusa Tenggara Timur masih tertinggal jika dibandingkan daerah lain.
Data tahun 2024, indeks literasi pelajar SMA, hanya 24,7% yang mencapai kategori baik, sisanya berada pada kategori sedang hingga rendah. Untuk indeks numerasi, kategori baik hanya 15,81%, kategori sedang 33,81%, kurang 26,23% dan paling rendah 24,15%.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan