Kondisi ini menjadi persoalan serius bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan kemampuan dasar membaca, menulis dan berhitung. Angka-angka di atas tidak bisa dibaca sebagai kegagalan individu siswa. Sebab harus dilihat dalam konteks ketimpangan akses dan keterbatasan sumber daya yang membentuk pengalaman belajar.

Pemikiran Pierre Bourdieu, bahwa capaian pendidikan ditentukan oleh distribusi modal ekonomi, sosial, dan budaya yang tidak dimiliki secara setara oleh setiap anak. Modal ekonomi menentukan kemampuan dalam memperoleh sumber belajar: buku, perangkat, hingga les atau bimbingan belajar tambahan.

Modal sosial terkait jejaring dan pendampingan akademik untuk mendukung anak dalam belajar. Sementara modal budaya tercermin dalam kebiasaan literasi, berpikir, dan orientasi terhadap pendidikan yang terbentuk di lingkungan keluarga. Ketiga modal ini untuk keluarga di wilayah terbatas akan sulit dihadirkan.

Iklan

Sebagian anak-anak ini setelah pulang sekolah, akan menghabiskan waktu dan tenaga untuk membantu pekerjaan keluarga, sehingga kesempatan untuk belajar semakin sulit.

Ketimpangan menjadi semakin nyata ketika sistem pendidikan menggunakan mekanisme seleksi: asesmen, tes kemampuan akademik, hingga ujian atau tes masuk. Secara formal, sistem ini terlihat objektif dan transparan, bahkan diperkuat oleh penggunaan teknologi seperti ujian berbasis komputer.