Namun, sesungguhnya, kondisi ini dibangun pada titik yang tidak seimbang. Anak-anak yang terbatas dalam berbagai modal dipaksakan berkompetisi dengan mereka yang memiliki akses penuh terhadap buku, fasilitas belajar, les atau bimbingan belajar tambahan, serta lingkungan yang mendukung.

Sistem ujian dan seleksi dalam pendidikan tidak lagi sekadar mengukur kemampuan siswa, tetapi secara tidak langsung menjadi mekanisme yang memperlihatkan ketimpangan. Akibatnya, siswa yang memiliki modal besar akan terus unggul, sementara yang berasal dari keadaan terbatas akan semakin tertinggal.

Melihat kebijakan dan Prioritas

Dalam situasi yang tertinggal, kebijakan pendidikan seharusnya diprioritaskan untuk memperkuat akses untuk memperbaiki kualitas.

Iklan

Praktiknya, saat ini program pemerintah yang sementara berjalan yaitu Program Makan Bergizi Gratis (MBG), program unggulan Pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming.

Tujuan dari program ini sangat baik dalam konteks pemenuhan gizi siswa. Untuk konteks wilayah 3T di NTT, persoalan utama tidak hanya berkaitan dengan konsumsi, tetapi juga keterjangkauan pendidikan itu sendiri.

Saat muncul angka 60 juta penerima manfaat MBG, justru di wilayah terluar dan tertinggal di NTT, sebagian sekolah belum tersentuh program, maka timbul kesenjangan baru dalam implementasi kebijakan.