Kepala sekolah yang memimpin sebagai Mone Ama hadir bukan untuk mengatur, tetapi untuk menuntun. Ia menjadi pelindung, pelayan, dan pemersatu komunitas sekolah.

Kesimpulan

Model kepemimpinan Mone Ama dari budaya Rote adalah tawaran segar bagi dunia pendidikan, khususnya di wilayah timur Indonesia. Model ini menekankan bahwa kepala sekolah bukan hanya administrator, tetapi penjaga nilai, penginspirasi harapan, dan pembimbing spiritual.

Syair adat mengingatkan kita:
“Ana ma dodo, ina ma nggeo; mone ma saik, feto ma lele”
(Anak membawa terang, ibu memberi teduh; pemimpin menuntun, perempuan merawat)
Firman Tuhan dalam Amsal 4:7 menegaskan:
“Hikmat adalah hal yang paling utama; sebab itu peroleh hikmat, dan dengan segala yang kau peroleh perolehlah pengertian.”

Iklan

Kepala sekolah yang memimpin dengan hikmat dan kasih, menjadi pancaran terang Tuhan bagi komunitasnya. Di tengah dunia pendidikan yang sering kehilangan arah, Mone Ama menjadi simbol harapan dan titik balik menuju sekolah yang lebih manusiawi, bermakna, dan bermartabat. (*)