Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
KEPEMIMPINAN kepala sekolah yang hanya mengandalkan pendekatan administratif terbukti belum cukup menjawab tantangan pendidikan di wilayah marjinal seperti Rote Ndao. Budaya lokal menawarkan model kepemimpinan spiritual yang relevan melalui figur Mone Ama, yakni pemimpin moral yang memimpin dengan kasih, kesabaran, dan hikmat. Artikel ini menguraikan relevansi model Mone Ama sebagai representasi kepemimpinan spiritual kepala sekolah, dengan pendekatan reflektif-kontekstual dan dukungan hasil riset lima tahun terakhir. Model ini menekankan transformasi peran kepala sekolah sebagai penjaga nilai, penuntun spiritual, dan pembawa damai dalam komunitas belajar.
Pendahuluan
Krisis kepemimpinan etis di dunia pendidikan, khususnya di wilayah-wilayah tertinggal, menunjukkan bahwa pendekatan teknokratik belum cukup membangun sekolah sebagai ruang pertumbuhan manusia seutuhnya. Kepemimpinan spiritual berbasis nilai lokal menjadi kebutuhan mendesak (Fry et al., 2020). Di Nusa Tenggara Timur, masyarakat Rote memiliki figur Mone Ama—seorang pemimpin yang bukan hanya kuat secara struktural, tetapi kokoh dalam nilai dan kerendahan hati.
Model ini menawarkan arah baru bagi kepala sekolah, yaitu menjadikan peran kepemimpinan sebagai pelayanan, pengabdian, dan penjaga jiwa komunitas sekolah. Hal ini sejalan dengan kerinduan banyak komunitas sekolah terhadap kehadiran pemimpin yang tidak hanya hadir secara administratif, tetapi menjadi “tubuh nilai” yang hidup dalam tindakan.
1. Kepemimpinan sebagai Pelayanan dan Panggilan Spiritual
Kepemimpinan bukan soal posisi, tetapi panggilan untuk mengabdi. Greenleaf (2020) dalam gagasannya tentang servant leadership menekankan bahwa pemimpin yang sejati adalah mereka yang memimpin dengan melayani dan mendahulukan kepentingan komunitas.
Dalam konteks Rote, kepemimpinan seperti ini digambarkan dalam syair adat:
“Sauk na luli, lele ma saik; tama ma tama, tesa ma tesa”
(Melangkah dalam kudus, memimpin dalam sabar; yang datang diberkati, yang tinggal dijaga)
Penelitian Nurhayati dan Sugiyanto (2023) menunjukkan bahwa ketika kepala sekolah memimpin dengan ketulusan dan pengabdian, guru dan siswa merasa dihargai dan menunjukkan loyalitas yang lebih tinggi. Dalam pandangan budaya Rote, kepala sekolah bukanlah manajer lembaga, melainkan imam nilai, yang doanya terlihat dalam keputusan-keputusan yang mengangkat martabat manusia.
2. Kecerdasan Spiritual sebagai Landasan Kepemimpinan
Zohar dan Marshall (2001) menekankan bahwa kecerdasan spiritual adalah fondasi tertinggi dari kepemimpinan otentik. Pemimpin yang memiliki Spiritual Quotient mampu memaknai tugasnya bukan sekadar rutinitas, tetapi misi kehidupan.
Penelitian Kurniawan dan Hasanah (2021) menguatkan bahwa pemimpin sekolah yang bertindak berdasarkan nilai-nilai spiritual akan lebih resilien dalam menghadapi keterbatasan, serta mampu membangun iklim kolaboratif yang sehat. Kepala sekolah di wilayah marginal membutuhkan bukan hanya kemampuan manajerial, tetapi spiritualitas yang mampu menerangi.
Pemimpin yang rendah hati, sabar, dan bijaksana adalah refleksi dari pernyataan Yesus dalam Injil Matius 20:26:
“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.”
Kepemimpinan spiritual yang demikian menjadikan kepala sekolah sebagai inspirator yang memancarkan ketenangan dan harapan.
3. “Mone Ama”: Spiritualitas yang Kontekstual dan Transformatif
Mone Ama bukan sekadar pemimpin adat, tetapi figur spiritual yang menjaga tatanan dan keseimbangan hidup masyarakat. Ia berbicara dengan hati, menegur dengan hikmat, dan memimpin dengan teladan. Dalam masyarakat Rote, ungkapan “Ingo-ingo feto lele, hata-hata mone do hetu” (Perempuan merawat, laki-laki melindungi dengan kata dan tindakan) menggambarkan peran Mone Ama sebagai penanggung jawab moral komunitas.
Menurut Faot (2021), nilai-nilai Mone Ama tidak bersifat eksklusif terhadap laki-laki, tetapi mencerminkan kualitas pemimpin spiritual yang bisa diwujudkan oleh siapa pun yang menempatkan nilai sebagai fondasi tindakan.
Bagi kepala sekolah, peran sebagai Mone Ama berarti:
- Menjadi panutan dalam sikap, bukan hanya instruktur kebijakan
- Mampu merangkul konflik dengan kasih, bukan menindas dengan kekuasaan
- Menjadi penyatu komunitas dalam semangat sala lele ma hata saik (melangkah bersama dengan kata yang baik).
4. Spiritualitas Meningkatkan Mutu Pendidikan
Berbagai penelitian mendukung bahwa kepemimpinan spiritual meningkatkan efisiensi dan mutu pendidikan. Fry et al. (2020) membuktikan bahwa spiritualitas pemimpin berhubungan dengan peningkatan motivasi kerja, loyalitas staf, dan efektivitas manajerial.
Studi oleh Azzuhri et al. (2022) pada sekolah di daerah 3T menunjukkan bahwa kepala sekolah dengan visi spiritual mampu membangun semangat juang guru, meski berada di tengah keterbatasan sarana. Kepala sekolah bukan hanya pemecah masalah, tetapi pemantik harapan.
Di NTT, Lado et al. (2023) menemukan bahwa pemimpin yang mengintegrasikan nilai budaya dan spiritualitas dalam kepemimpinan berhasil menurunkan angka pindah guru dan meningkatkan partisipasi orang tua dalam kegiatan sekolah.
5. Sekolah sebagai Tempat Pertumbuhan Jiwa
Sekolah bukanlah pabrik nilai ujian, melainkan rumah pertumbuhan spiritual dan karakter. Pemimpin yang berperan sebagai Mone Ama membawa roh kehidupan ke dalam komunitas sekolah. Seperti tertulis dalam syair Rote:
“Tuka no ledo, bata no nggeo; ana ta meti, ena ta feni”
(Matahari memberi terang, bulan memberi teduh; anak tak hanya diajar, tetapi juga dipeluk)
Pemimpin seperti ini menjadi wajah Tuhan bagi warganya. Dalam Yohanes 10:11, Yesus berkata:
“Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.”
Kepala sekolah yang memimpin sebagai Mone Ama hadir bukan untuk mengatur, tetapi untuk menuntun. Ia menjadi pelindung, pelayan, dan pemersatu komunitas sekolah.
Kesimpulan
Model kepemimpinan Mone Ama dari budaya Rote adalah tawaran segar bagi dunia pendidikan, khususnya di wilayah timur Indonesia. Model ini menekankan bahwa kepala sekolah bukan hanya administrator, tetapi penjaga nilai, penginspirasi harapan, dan pembimbing spiritual.
Syair adat mengingatkan kita:
“Ana ma dodo, ina ma nggeo; mone ma saik, feto ma lele”
(Anak membawa terang, ibu memberi teduh; pemimpin menuntun, perempuan merawat)
Firman Tuhan dalam Amsal 4:7 menegaskan:
“Hikmat adalah hal yang paling utama; sebab itu peroleh hikmat, dan dengan segala yang kau peroleh perolehlah pengertian.”
Kepala sekolah yang memimpin dengan hikmat dan kasih, menjadi pancaran terang Tuhan bagi komunitasnya. Di tengah dunia pendidikan yang sering kehilangan arah, Mone Ama menjadi simbol harapan dan titik balik menuju sekolah yang lebih manusiawi, bermakna, dan bermartabat. (*)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan