Menurut Faot (2021), nilai-nilai Mone Ama tidak bersifat eksklusif terhadap laki-laki, tetapi mencerminkan kualitas pemimpin spiritual yang bisa diwujudkan oleh siapa pun yang menempatkan nilai sebagai fondasi tindakan.

Bagi kepala sekolah, peran sebagai Mone Ama berarti:

  • Menjadi panutan dalam sikap, bukan hanya instruktur kebijakan
  • Mampu merangkul konflik dengan kasih, bukan menindas dengan kekuasaan
  • Menjadi penyatu komunitas dalam semangat sala lele ma hata saik (melangkah bersama dengan kata yang baik).

4. Spiritualitas Meningkatkan Mutu Pendidikan

Berbagai penelitian mendukung bahwa kepemimpinan spiritual meningkatkan efisiensi dan mutu pendidikan. Fry et al. (2020) membuktikan bahwa spiritualitas pemimpin berhubungan dengan peningkatan motivasi kerja, loyalitas staf, dan efektivitas manajerial.

Iklan

Studi oleh Azzuhri et al. (2022) pada sekolah di daerah 3T menunjukkan bahwa kepala sekolah dengan visi spiritual mampu membangun semangat juang guru, meski berada di tengah keterbatasan sarana. Kepala sekolah bukan hanya pemecah masalah, tetapi pemantik harapan.

Di NTT, Lado et al. (2023) menemukan bahwa pemimpin yang mengintegrasikan nilai budaya dan spiritualitas dalam kepemimpinan berhasil menurunkan angka pindah guru dan meningkatkan partisipasi orang tua dalam kegiatan sekolah.

5. Sekolah sebagai Tempat Pertumbuhan Jiwa

Sekolah bukanlah pabrik nilai ujian, melainkan rumah pertumbuhan spiritual dan karakter. Pemimpin yang berperan sebagai Mone Ama membawa roh kehidupan ke dalam komunitas sekolah. Seperti tertulis dalam syair Rote:
“Tuka no ledo, bata no nggeo; ana ta meti, ena ta feni”
(Matahari memberi terang, bulan memberi teduh; anak tak hanya diajar, tetapi juga dipeluk)
Pemimpin seperti ini menjadi wajah Tuhan bagi warganya. Dalam Yohanes 10:11, Yesus berkata:
“Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.”