Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Semua itu ikut berkontribusi sedemikian rupa dalam proses menghasilkan predikat akreditasi unggul itu. Jadi, predikat itu bukan sesuatu yang mengejutkan. Bukan!
Selain itu, ada kontribusi alumni Undana yang, secara umum, membanggakan. Mereka yang (telah) mengabdi pada berbagai bidang kehidupan itu ikut serta membangun Indonesia secara umum, NTT secara khusus: ada guru; ada ilmuwan; ada kepala desa, ada camat, ada bupati, bahkan, ada gubernur; ada wakil rakyat; ada wartawan; ada petani; ada pengusaha; ada pengacara; dan, ada berbagai profesi lainnya.
Mahasiswa Undana pun tak kalah cemerlangnya. Laman Undana bercerita banyak tentang mereka. Ada duta bahasa, juara lomba karya tulis ilmiah, juara lomba “micro-teaching”, juara desain media pembelajaran, pemenang lomba mahasiswa berprestasi, peserta program mobilitas mahasiswa luar negeri, dan juara beberapa even nasional dan internasional.
Dengan demikian, Undana, sejatinya, layak mendapat predikat itu. Walaupun demikian, tentu, harus diakui bahwa Undana, dengan predikat itu, bukanlah sebuah lembaga pendidikan tinggi yang sempurna. Dia bukan UI. Apalagi Universitas Harvard atau Cambridge. Bukan. Selalu punya kekurangan dalam dirinya, misalnya, dalam diri dosen yang “amat sangat susah” ditemui; pesan WA yang tidak pernah dibalas; yang begitu susah ditemui padahal tinggalnya bukan di planet lain, tetapi masih di sekitar kampus Undana. Di Kupang. Itu, antara lain, yang membuat mahasiswanya, akhirnya, dropped-out atau “pushed out” dan frustasi. Kecewa berat. Hasil belajarnyapun kurang maksimal sehingga sulit dapat kerja setelah tamat, apalagi untuk menciptakan lapangan kerja untuk dirinya sendiri dan orang lain di sekitarnya.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan