Kekurangan tersebut, tentu, kita harapkan, tidak menjadi nila setitik perusak susu sebelanga. Supaya harapan itu tercapai, kekurangan itu, bagaimanapun caranya, harus segera diatasi supaya susu sebelanga yang bernama Undana itu tetap terjaga kemaslahatannya untuk dirinya sendiri dan untuk masyarakat banyak, para pemangku kepentingannya.

Itu penting karena ketika itu bisa dilakukan, Undana tidak hanya akan semakin percaya diri berkat predikat itu, tetapi juga lebih mampu menatap masa depannya dengan keyakinan penuh bahwa Undana sekali unggul tetap unggul untuk dirinya sendiri dan untuk NTT, tempat dia lahir dan dibesarkan, secara khusus, Indonesia/dunia secara umum. Sekarang dan nanti.

Harapan itu penting. Sebab syukur Undana sudah unggul, terlepas dari berbagai kekurangan, yang saya sebut di atas, yang harus segera diatasi. Namun NTT belum unggul. Minimal, secara umum. Secara proporsional. Belum. Untuk masalah kemiskinan, misalnya, pada September 2024, ada 1,11 juta orang miskin di NTT. Itu sama dengan 19,02% penduduknya.

Iklan

Secara nasional, ada 8,57% yang miskin. Itu setara dengan 24,06 juta jiwa, menurut data BPS. Itu hampir empat kali jumlah penduduk NTT. Soal tengkes/stunting, salah satu potret kemiskinan, setali tiga uang: secara nasional prevalensi stunting 19,08%. Namun di NTT, Sulawesi Barat, dan Papua Tengah proporsinya di atas 30%. Tinggi sekali. Selain soal kemiskinan dan stunting, pengangguran terbuka juga jadi soal di NTT, walaupun secara proporsional relatif kecil, yaitu 3,02% pada November, 2024, bila dibandingkan dengan tingkat pengangguran Indonesia pada Februari 2025, yaitu 4,76% atau 7,28 juta orang!