Ada satu adegan lain yang melekat kuat di ingatan saya. Kampanye sambil mandi hujan di pulau-pulau. Dari pulau Boleng, Pulau Messah, Papagarang, Pulau Seraya besar dan kecil dan pulau-pulau lainnya. Sebelum Viktor bicara, Edi Endi berdiri lebih dulu. Dengan bahasa adat yang singkat namun padat, ia menyapa leluhur dan meminta izin pada tanah.

Seorang tua lalu berbicara tentang jalan, tentang anak sekolah, tentang orang sakit. Edi Endi menunduk, mendengar. Setelah itu barulah ia menoleh ke Viktor. Isyaratnya cukup. Tidak ada sorak-sorai. Hanya anggukan, jenis persetujuan yang lahir dari keyakinan.

Di sela-sela kampanye, Edi Endi punya kebiasaan khas. Usai sesi adat dan pertemuan resmi, ia kerap menghilang. Ia masuk ke lorong kampung, ke rumah-rumah yang tak tercantum di agenda. Kami baru kembali bertemu ketika rombongan hendak pulang.

Iklan

“Kae, dari mana?” tanya saya. “Blusukan, amang,” jawabnya ringan.

Jawaban itu sederhana, tetapi di situlah inti kerja politik Edi Endi. Ia hadir di ruang-ruang yang tak tersorot kamera. Ia mendengar cerita yang tak sempat disampaikan di forum resmi. Ia mencatat hal-hal kecil. Lalu mengeksekusinya.

Cara kerja seperti itu tak pernah diajarkan di buku teks ilmu politik. Namun justru itulah yang membuatnya kuat. Relasinya cair, tanpa jarak. Di tengah gegap gempita Labuan Bajo sebagai destinasi super prioritas, Edi Endi tetap menjejak tanah. Ia sadar pariwisata tak boleh hanya bercahaya di pusat kota.