Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Saya masih ingat satu perjumpaan di sebuah kampung pedalaman ke kampung Terang demikian nama tempat itu. Sebelumnya kami menyusuri dari kampung Mbuit. Beberapa kampung sesudahnya sudah kami singgahi. Jalan menuju ke sana rusak parah. Mobil berhenti berkali-kali. Mobil sempat terhenti ketika melewati sebuah kali kecil. Jembatan Wailengkong saat itu sudah tidak bisa dilewati oleh kendaraan roda empat karena ada bagian jembatan yang ambles. Akibatnya kendaraan roda empat harus memutari jembatan melalui sungai yang saat itu sedang banjir kecil akibat hujan. Jalan alternatif itu sangat berbahaya karena berlumpur dan sangat landai. Hanya kendaraan SUV 4×4 yang bisa selamat di tanjakan yang berlumpur dan licin ini.
Keluhan tentang jalan menjadi cerita utama dalam setiap perjumpaan. Edi Endi menyimak dengan sabar, lalu dengan tenang mengarahkan percakapan kepada Viktor. Edi Endi menyodorkan bola toser dan Viktor men-smash di hadapan warga. Komitmen membangun ruas jalan provinsi di seluruh pelosok NTT.
Mungkin ide VBL untuk membangun ruas ruas jalan provinsi bisa jadi muncul dari Manggarai Barat dalam perjumpaannya dengan Edi Endi dan ruas jalan provinsi yang menggenaskan.
Kala itu, janji itu terdengar seperti harapan yang terlalu tinggi. Namun waktu membuktikan sebaliknya. Di era kepemimpinan VBL, sejumlah ruas jalan provinsi di Manggarai Barat benar-benar dikerjakan. Simpang Gorang–Simpang Wangkung, Londo–Simpang Noa–Hita, Hita–Simpang Tiga Kedindi, hingga Simpang Noa–Golo Welu—ruas-ruas yang dulu kami lalui dengan keluhan kini berubah wajah. Tak hanya di Manggarai Barat, VBL membangun jalan di sepanjang ruas jalan provinsi.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

