BEBERAPA tokoh dikenang bukan karena pidato atau jabatan melainkan karena perjalanan panjang yang mereka lalui bersama rakyat. Edistasius Endi adalah salah satunya. Ia hadir dalam ingatan sebagai sosok yang tumbuh dari kerja panjang yang tidak tercatat dan perjumpaan di kampung-kampung sunyi.

Saya pertama kali bersua dengan Edistasius Endi pada tahun 2018 lalu ketika mengikuti kampanye Pilgub NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat di Manggarai Barat. Hampir sepekan penuh kami bergerak dari satu kampung ke kampung lain, menembus wilayah pedalaman. Dari Kecamatan Boleng hingga pulau-pulau kecil yang mengitari daratan Flores bagian barat. Hari-hari panjang itu dihabiskan di jalan, jalan tanah, jalan bberlumpur dan jalan rusak yang mengitari perbukitan hingga areal persawahan.

Di perjalanan itulah saya mengenal Edi Endi. Ia selalu ada. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, namun langkahnya cepat dan sigap. Ia seolah hafal setiap tikungan jalan, setiap nama kampung, setiap rumah gendang dan tokoh adat. Di medan seberat apa pun, ia tampak nyaman seperti baterai alkalin yang tidak kehabisan daya.

Iklan

Setiap kali rombongan tiba di kampung, Edi Endi memastikan semuanya berjalan sesuai adat. Ia tahu siapa yang harus disapa lebih dulu, bagaimana membuka percakapan, dan kapan VBL mesti masuk dalam dialog. Tutur adatnya mengalir, tenang, tidak dibuat-buat. Ia tidak sekadar menerjemahkan bahasa, tetapi juga suasana batin masyarakat.