“Di sinilah kreativitas kita diuji—mengubah limbah menjadi produk bernilai seni, budaya, dan ekonomi,” ujar perempuan kelahiran Waikabubak, Sumba Barat tersebut.

Peserta kemudian belajar membuat berbagai produk seperti anting-anting, bros, jepit rambut, gelang dan aksesori lainnya.

Teknik yang diajarkan meliputi menjahit, merekatkan bahan, membuat pola hingga proses finishing.

Iklan

Jadi Peluang Ekonomi Kreatif Jemaat

Sulistyastuti menekankan bahwa produk kerajinan berbasis kain adat memiliki keunggulan karena tidak hanya menawarkan aspek ramah lingkungan, tetapi juga membawa cerita dan identitas budaya.

Kondisi tersebut dapat menjadi peluang untuk mengembangkan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.

“Produk daur ulang dari kain adat tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memiliki nilai jual tinggi karena mengandung cerita dan identitas budaya. Ini bisa menjadi peluang ekonomi kreatif bagi jemaat,” tambahnya.

Dengan demikian, aksi ekoteologi yang dilakukan IAKN Kupang tidak berhenti pada penyampaian materi mengenai lingkungan, tetapi diarahkan pada keterampilan yang dapat diterapkan dan dikembangkan oleh masyarakat.

Jemaat Sonaf Honis Bonen Siapkan Komunitas Kreatif

Penanggung jawab GMIT Jemaat Sonaf Honis Bonen, Saptarina S. Padji-Sulla, menyambut positif kegiatan tersebut.