“Kami di daerah tidak sedang meminta Pengurus Pusat datang membawa janji besar. Kami juga tidak meminta mereka menjadi pahlawan. Yang kami tuntut jauh lebih sederhana: sikap. Sikap yang jelas, sikap yang berpihak, dan sikap yang menunjukkan bahwa penderitaan masyarakat NTT bukan persoalan daerah semata, tetapi persoalan kemanusiaan yang menjadi tanggung jawab moral kita bersama,” ungkapnya.

Ia menegaskan BEM Nusantara tidak boleh menjadi organisasi yang hanya hadir pada momentum tertentu.

“BEM Nusantara bukan organisasi yang boleh memilih-milih momentum untuk berpihak kepada rakyat. Ketika rakyat membutuhkan suara, mahasiswa harus bersuara. Ketika rakyat membutuhkan bantuan, mahasiswa harus bergerak. Dan ketika rakyat terluka, mahasiswa harus hadir,” tegas Andhy.

Iklan

Bencana Flores jadi Ujian Gerakan Mahasiswa

Andhy berharap seluruh elemen BEM Nusantara, baik di tingkat pusat maupun daerah, menjadikan bencana gempa di Flores sebagai momentum untuk menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa masih memiliki kepedulian dan keberpihakan terhadap persoalan rakyat.

Menurutnya, kehadiran mahasiswa dalam situasi bencana bukan hanya tentang bantuan material, tetapi juga keberanian menyuarakan kebutuhan masyarakat dan memastikan persoalan korban mendapat perhatian yang memadai.