Uang yang saya dapat dari iuran warga. Kalau untuk kompleks kontrakan biasanya sebulan Rp250.000,” ungkap Filipus.

Namun, penghasilan tersebut masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sebab, apabila gerobak yang digunakannya mengalami kerusakan, seluruh biaya perbaikan harus ditanggung sendiri.

“Kalau untuk biaya hidup tentu kurang, karena kalau gerobak rusak seperti ban pecah atau ada kerusakan lain tentu saya ganti sendiri,” tuturnya.

Iklan

Di balik pengabdiannya menjaga kebersihan lingkungan, Filipus menyimpan harapan yang hingga kini belum terwujud. Ia mengaku pernah dijanjikan akan diangkat menjadi tenaga honorer di tingkat kelurahan. Harapan itu muncul sejak 2023, namun hingga kini belum ada kepastian.

“Mereka mau urus SK honor di kelurahan, tetapi sampai hari ini tidak pernah. Dari 2023 itu, ini yang janji bapak RT,” katanya.

Selain menghadapi keterbatasan ekonomi, Filipus juga mengungkapkan bahwa pengelolaan sampah di tingkat masyarakat masih belum optimal.

Sampah yang dikumpulkan warga umumnya belum dipilah berdasarkan jenisnya, sehingga dirinya sering kali harus melakukan pemisahan sampah secara langsung di Tempat Pembuangan Sementara (TPS).

Meski demikian, Filipus tetap menjalani pekerjaannya dengan penuh tanggung jawab. Di tengah derasnya arus modernisasi dan urbanisasi Kota Kupang, ia terus bertahan sebagai salah satu garda terdepan yang menjaga kebersihan lingkungan, sembari berjuang untuk menghidupi keluarganya.