Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Kupang, RakyatNTT.ID – Krisis iklim di Nusa Tenggara Timur (NTT) dinilai tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memperparah ketimpangan sosial dan gender yang telah lama dialami masyarakat, khususnya perempuan.
Kondisi tersebut menjadi sorotan utama dalam webinar yang diselenggarakan Solidaritas Perempuan Flobamoratas dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Minggu (7/6/2026).
Mengusung tema “Alarm Krisis Iklim: Perspektif Feminis atas Pembangunan, Transisi Energi, dan Masa Depan Ruang Hidup di NTT”, kegiatan ini menghadirkan tiga aktivis perempuan yang mengupas dampak krisis iklim, pembangunan ekstraktif, hingga perjuangan perempuan dalam mempertahankan ruang hidup mereka.
Dalam pengantarnya, Solidaritas Perempuan Flobamoratas menegaskan bahwa krisis iklim di NTT telah memicu berbagai persoalan serius, mulai dari perubahan pola musim, kekeringan berkepanjangan, krisis air bersih, menurunnya produktivitas pertanian, hingga meningkatnya kerawanan pangan.
Situasi tersebut menambah beban kerja perawatan yang selama ini banyak ditanggung perempuan. Di sisi lain, migrasi menjadi pilihan bertahan hidup bagi banyak keluarga, yang turut meningkatkan kerentanan perempuan terhadap eksploitasi dan kekerasan.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan