Linda menjelaskan bahwa perjuangan perempuan terlihat melalui empat dimensi utama, yakni ekspresi, tubuh, pikiran, dan hasil kerja perempuan.

Menurutnya, tubuh perempuan sering menjadi medan pertarungan antara resiliensi, diskriminasi, dan eksploitasi. Dalam kondisi krisis, perempuan dituntut menjaga keberlangsungan keluarga dan komunitas, namun tetap menghadapi berbagai bentuk ketidakadilan.

Ia juga menyoroti bagaimana ekspresi perempuan yang menyuarakan kritik terhadap proyek pembangunan kerap mendapat stigma, penghinaan, hingga upaya pembungkaman.

Iklan

Selain itu, pengetahuan dan pemikiran perempuan sering kali dipandang sebelah mata oleh budaya patriarki yang masih kuat, sehingga suara mereka jarang dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.

“Kerja-kerja perawatan yang dilakukan perempuan selama ini belum mendapatkan pengakuan yang layak, padahal menjadi fondasi utama ketahanan keluarga, komunitas, dan lingkungan hidup,” kata Linda.

Krisis Iklim Dinilai Tidak Netral Gender

Dalam paparannya, Linda menegaskan bahwa krisis iklim bukanlah persoalan yang netral gender. Sebaliknya, krisis tersebut memperparah ketidakadilan yang selama ini dialami perempuan.

Ia menilai berbagai proyek yang diklaim sebagai solusi terhadap krisis iklim justru sering mengabaikan pengalaman dan kebutuhan perempuan, bahkan mempersempit ruang demokrasi dan partisipasi politik mereka.