Organisasi tersebut juga menyoroti maraknya proyek pembangunan dan investasi ekstraktif yang memperluas penguasaan atas tanah, air, serta sumber daya alam tanpa menjamin partisipasi bermakna masyarakat terdampak.

Menurut mereka, berbagai proyek yang mengatasnamakan pembangunan dan transisi energi justru mempersempit ruang hidup perempuan, meningkatkan konflik agraria, serta mempercepat kerusakan ekologis.

Perempuan Flores Hadapi Krisis Berlapis

Pembicara pertama, Magdalena Eda Tukan dari Koalisi Kopi, menjelaskan bahwa perempuan di Flores Timur memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan melalui pengelolaan benih lokal yang adaptif terhadap perubahan iklim.

Iklan

Menurut Eda, pengetahuan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun menjadi modal utama masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Namun, ia mengingatkan bahwa agenda transisi energi berskala industri yang berkembang di Pulau Flores berpotensi mengancam ruang hidup perempuan karena tidak dibangun melalui proses yang partisipatif dan bermakna.

Kondisi tersebut semakin berat mengingat masyarakat Flores Timur masih berupaya bangkit dari dampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki. Dalam situasi krisis berlapis itu, perempuan harus memastikan ketersediaan pangan, memenuhi kebutuhan air keluarga, sekaligus menjaga keberlangsungan kehidupan komunitas.

WALHI NTT Soroti Ekspansi Pembangunan Ekstraktif

Pembicara kedua, Horiana Yolanda dari WALHI NTT, menegaskan bahwa NTT saat ini berada dalam cengkeraman krisis iklim yang semakin diperparah oleh ekspansi pembangunan ekstraktif.