Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Dan siapa pun yang pernah dekat dengan altar tahu bahwa yang paling berbahaya bukanlah mereka yang jahat di luar Gereja, tetapi mereka yang jahat di dalam Gereja, karena mereka memiliki bahasa Tuhan tetapi beroperasi dengan logika Caesar.
Pada akhirnya, peristiwa ini tidak semata mengungkap jatuh-bangunnya seorang gembala, tetapi memperlihatkan bahwa Gereja—di mana pun ia berada—akan selalu diuji bukan oleh dunia luar, melainkan oleh nafsu kekuasaan yang tumbuh di dalam tubuhnya sendiri. Jika refleksi ini memiliki satu pesan, maka pesan itu adalah bahwa skandal terbesar Gereja bukanlah ketika ia terluka oleh orang-orang jahat, tetapi ketika ia dipimpin oleh orang-orang baik yang memilih diam terhadap struktur yang jahat. Gereja hanya dapat disembuhkan ketika ia berani melihat dirinya di cermin tanpa kosmetik teologis dan tanpa liturgi pelarian: mengakui, bertobat, dan memperbaiki. Jika tidak, maka sejarah akan mengulang bab yang sama – dengan nama baru, wajah baru, dan korban baru – sementara tubuh Kristus perlahan-lahan kehilangan kredibilitas moralnya di mata umat yang justru menjadi alasan Gereja ada.
“Potestas luditur sub sacris vestibus” “Kekuasaan dimainkan di balik jubah suci.” (*)



WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

