Gereja selalu punya dua wajah: institusi dan karisma. Ketika institusi memanipulasi karisma, luka yang muncul bukan hanya personal tetapi eklesial. Yang dilukai bukan hanya Mgr. Paskalis, tetapi juga imajinasi umat tentang Gereja.

Ketika Umat Menjadi Saksi yang Tak Diundang

Dalam banyak episode krisis Gereja – dari Boston hingga Chile – umat selalu menjadi penonton pasif sebelum akhirnya menjadi saksi yang kecewa. Mereka tidak diundang dalam proses, tetapi ikut menanggung akibat. Dalam kasus Bogor, umat dipaksa melihat dua wajah Gereja: Gereja sebagai Gembala, dan Gereja sebagai Mesin Kekuasaan.

Iklan

Yang paling ironis juga adalah bagaimana gosip dan rumor dapat memperoleh status kebenaran hanya karena dilafalkan oleh orang berjubah. Di sini tampak gejala serius: umat telah dididik menerima simbol otoritas sebagai pengganti penalaran kritis. Ketika itu terjadi, siapa pun dapat dihancurkan bukan lewat fakta, tetapi lewat legitimasi simbolis.

Antara Primordialisme Budaya dan Politik Identitas Gerejawi

Dimensi budaya dalam kasus ini tidak dapat diabaikan. Dua Uskup dari latar yang sama mengalami penolakan serupa. Jika ini benar, maka persoalan Bogor bukan hanya soal kekuasaan, tetapi juga soal siapa yang dianggap pantas memikul kekuasaan. Gaung primordialisme ternyata masih hidup di dalam struktur Gereja yang sepanjang hari berkhotbah tentang katolisitas.