Bacaan: Matius 27:32-56

Pendahuluan

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, ketika kita membaca kisah Jumat Agung, kita sering langsung terpaku pada penderitaan fisik Yesus. Dan memang, penderitaan itu nyata. Salib bukan lukisan rohani yang manis. Salib adalah alat penyiksaan.

Salib adalah tempat tubuh dihancurkan, martabat direndahkan, dan hidup dipamerkan dalam kehinaan. Tetapi Matius mengajak kita melihat lebih dalam dari sekadar rasa sakit. Di balik derita itu, ada sesuatu yang jauh lebih besar. Ada kasih Allah yang tidak dapat dihancurkan oleh cambuk, oleh paku, oleh ejekan, oleh kuasa politik, bahkan oleh kematian itu sendiri. Karena itu tema kita hari ini bukan sekadar “Yesus menderita,” tetapi “Kasih Tuhan lebih besar dari rasa sakit-Nya.”

Iklan

Salib dan Wajah Kuasa Manusia

Mari kita mulai dari kenyataan yang keras: dalam ayat-ayat ini, salib tampil sebagai panggung besar tempat manusia memamerkan kuasa, arogansi, dan ideologinya. Matius menulis bahwa Simon orang Kirene dipaksa memikul salib Yesus. Perhatikan baik-baik: dipaksa. Dari penangkapan, pengadilan, sampai penyaliban, semuanya bergerak di bawah tekanan kuasa.

Hukum tidak lagi berdiri untuk kebenaran; hukum dipaksa tunduk kepada kekuasaan. Di sini Matius sedang menunjukkan kepada kita bahwa Ketika manusia mabuk kuasa, tubuh orang lain menjadi alat, hidup orang lain menjadi beban, dan keadilan pun bisa dijadikan pelayan kekerasan.