Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Pertanyaannya: jika Gereja tidak mampu mengatasi bias primordialnya sendiri, bagaimana ia dapat menginjili masyarakat yang lebih luas tentang persaudaraan universal?
Pertanyaan Paling Menusuk: Untuk Siapa Semua Ini?
Pada titik ini kita mesti bertanya bukan sekadar “apa yang terjadi”, tetapi “untuk siapa semuanya dilakukan?” Sebab jika seluruh episode ini pada akhirnya hanya menghasilkan satu hal – jika seorang Uskup dipaksa mundur – maka ini absurd. Biaya reputasional Gereja terlalu mahal untuk hanya membeli perubahan kursi. Tetapi jika yang diperebutkan adalah kontrol ekonomi, jaringan bisnis, akses proyek strategis, dan pengaruh jangka panjang, maka logika peristiwa mulai mempunyai pola.
Otoritas spiritual tidak pernah berniat menjadi kekuatan modal. Tetapi dalam sejarah Gereja, begitu ia mulai memiliki aset, sekolah, rumah sakit, jaringan bisnis, dan bank moral, ia tak terhindarkan memasuki wilayah yang lebih dekat dengan Machiavelli daripada Injil.
Di Mana Letak Luka yang Sebenarnya?
Luka terbesar dari episode ini bukan pada Mgr. Paskalis sebagai individu. Ia tampaknya telah berdamai dengan nasib dan menerima semuanya sebagai bagian dari ketaatan Fransiskan. Luka yang lebih dalam adalah pada Gereja itu sendiri, karena setelah episode ini ada sesuatu yang hilang: kredibilitas moral.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

