Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Operasi yang terjadi tengah malam, permintaan menulis surat dalam dua jam, penghadiran tuduhan yang belum diverifikasi, hingga penggunaan isu pedofilia sebagai instrumen moral untuk menjerat reputasi – semua itu menyiratkan bahwa Gereja tidak kebal terhadap modus operandi yang oleh dunia sekuler disebut manufacturing consent: merancang kondisi sosial agar publik menerima sebuah kesimpulan tertentu seolah-olah berasal dari penilaian objektif.
Bahwa tuduhan itu kelak banyak yang gugur dengan sendirinya -termasuk isu pedofilia, isu penghancuran misi, dan isu finansial- justru memperlihatkan dimensi lain: bahwa yang penting bukan lagi kebenaran, melainkan efektivitas hasil.
Para Pion, Para Peluncur, dan Pertanyaan tentang “Tangan Siapa”
Narasi Kedua teks menghadirkan analogi catur yang menarik: ada pion-pion, ada gajah, dan ada dua kuda. Dalam catur, pion adalah korban paling cepat dijatuhkan, tetapi paling murah dikorbankan. Dalam kasus ini, pion itu adalah para imam muda, para religius, dan mereka yang mungkin tidak sepenuhnya mengerti bahwa mereka sedang dipakai sebagai bagian dari strategi lebih luas.
Pertanyaannya lebih dalam: siapa yang bermain di level peluncur dan kuda?
Tidak semua orang bisa “memblokir” visa Italia. Tidak semua orang dapat mengendalikan arus komunikasi dengan Roma. Tidak semua orang dapat melakukan framing reputasional di antara Uskup-Uskup lain. Dan tentu tidak sembarang orang bisa mengkondisikannya menjadi keputusan pengunduran diri.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

