“Manggarai Barat ini adalah kabupaten destinasi pariwisata super prioritas dan super premium. Jika bencana tidak kita antisipasi sejak dini, ini bisa menjadi beban besar. Pemerintah daerah harus memberi kepastian dan kenyamanan kepada masyarakat serta wisatawan bahwa Labuan Bajo itu aman,” kata Hilarius.

Perwakilan Program SIAP SIAGA, Selvister Ndaparoka, menjelaskan bahwa penetapan Kecamatan Komodo, Mbeliling, dan Boleng sebagai wilayah percontohan mempertimbangkan karakteristik serta tingkat risiko bencana masing-masing wilayah.

“Kenapa kami pilih tiga kecamatan ini? Komodo karena daerah pariwisata, Mbeliling karena dekat kawasan konservasi hutan yang menjadi napas hidup Flores, dan Boleng karena memiliki tingkat risiko bencana yang tinggi. Kami berharap uji coba ini sukses sehingga dapat diperluas ke seluruh kecamatan di Manggarai Barat,” ujarnya.

Iklan

Dalam arahan Pemerintah Provinsi NTT, setiap kecamatan didorong menyusun kegiatan mitigasi sesuai dengan karakteristik wilayah.

Di Kecamatan Mbeliling, pengurangan risiko bencana berkaitan erat dengan pelestarian hutan sebagai penyangga sumber air dan ekosistem Labuan Bajo.

Sementara itu, Kecamatan Boleng perlu memperhitungkan berbagai ancaman, seperti angin puting beliung, tsunami, abrasi, kekeringan, dan gelombang tinggi, termasuk risiko di wilayah pulau-pulau kecil.