Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Sembilan belas tahun kemudian, Untrib telah tumbuh. Ribuan mahasiswa pernah belajar di dalamnya. Ribuan alumni hadir di sekolah, pemerintahan, gereja, dunia usaha, dan ruang pelayanan masyarakat. Program studi bertambah, jejaring kerja sama berkembang, dan riset kemaritiman mulai memperlihatkan arah menjanjikan. Kampus yang lahir dari keterbatasan kini mulai berbicara tentang kolaborasi lintas negara, konservasi laut, pariwisata, teknologi digital, dan pembangunan perbatasan.

Namun, pertumbuhan kelembagaan belum selalu identik dengan kemajuan substantif. Untrib masih menghadapi masalah ketuntasan studi, keterbatasan beasiswa, kualitas dosen, publikasi ilmiah, akreditasi, fasilitas laboratorium, dan hubungan lulusan dengan lapangan kerja. Ketimpangan minat antar program studi juga menjadi persoalan serius. Pendidikan guru dan informatika cenderung diminati, sedangkan perikanan, agribisnis, dan teknologi hasil pertanian justru kekurangan mahasiswa. Padahal bidang-bidang terakhir itulah yang semestinya menjadi jantung universitas di wilayah kepulauan.
Visi kemaritiman tidak boleh berhenti sebagai kalimat dalam dokumen. Ia harus hadir dalam kurikulum, laboratorium, riset lapangan, pengolahan hasil laut, pendampingan nelayan, konservasi ekosistem, dan penciptaan lapangan kerja. Untrib harus mampu menunjukkan bahwa belajar perikanan, pertanian, kimia, atau teknologi pangan bukan pilihan kelas dua, melainkan jalan membangun kedaulatan ekonomi Alor.


WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan