Dalam politik modern, citra tidak pernah berhenti bekerja ketika jabatan berakhir. Justru setelah seseorang turun dari kekuasaan, salah satu tantangan terberatnya adalah mempertahankan pengaruh di ruang publik. Kekuasaan formal sudah berakhir, tetapi pengaruh politik masih dapat dijaga dan dirawat melalui jaringan, media, organisasi dan simbol.

Berbagai aktivitas politik Jokowi setelah tidak lagi menjadi presiden menarik untuk dibaca dalam kerangka yang lebih luas. Perubahan posisi politik setelah tidak lagi berada dalam barisan PDI Perjuangan, kemudian dekat dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI), yang dinakhodai putranya Kaesang Pangarep, juga menjadi dinamika politik yang menarik untuk dicermati.

PSI sendiri, dari persepsi publik, mengalami transformasi yang awalnya identiik sebagai partai anak muda kini semakin lekat dengan figur Jokowi dan keluarganya. Popularitas Jokowi tentu menjadi kekuatan politik yang kuat bagi PSI agar mampu menembus ambang batas parlemen pada pemilu berikut.

Iklan

Agenda politik mulai disusun jauh sebelum kontestasi pemilu 2029, publik berhak membaca rangkaian tersebut sebagai bagian dari dinamika politik yang lebih luas. Safari politik, karnaval gajah atau kirab budaya dapat dibaca sebagai cara memanaskan mesin politik sebelum tahapan kampanye resmi dimulai.

Dari Citra Sederhana ke Gelar Bangsawan

Joko Widodo membangun karier politiknya dengan citra yang sangat kuat yaitu sederhana dan merakyat. Sejak menjadi Walikota Surakarta, Gubernur DKI Jakarta, hingga menjadi Presiden, citra politik tersebut terus melekat. Blusukan menjadi salah satu simbol politik yang menjadi kekuatan untuk dekat dengan rakyat. Meninjau langsung ke lapangan memperlihatkan bahwa pemimpin hadir untuk mendengarkan secara langsung, memberi kesan bahwa kekuasaan tidak berjarak dari rakyatnya.