Kita tidak akan kembali ke masa kerajaan seperti dahulu, tetapi bisa saja kita sedang menyaksikan bentuk baru politik kerajaan di dalam demokrasi, kekuasaan diperoleh melalui pemilu, tetapi pengaruh dipelihara melalui simbol, gelar, jaringan, patronase dan keluarga.

Penutup

Politik memang selalu mencari panggung, sementara budaya seharusnya menunjukkan identitas. Keduanya sudah pasti beririsan, sebab politik dan budaya tidak pernah terpisah. Persoalan muncul ketika budaya kehilangan makna karena sibuk melayani kebutuhan panggung politik daripada menjaga identitas.

Dalam sepak bola, strategi pelatih dapat berubah pada dua kondisi, yaitu untuk mempertahankan keunggulan atau untuk mencetak gol saat mengalami kebuntuan. Ketika strategi tiba-tiba berubah, penonton biasanya bertanya, apakah ini strategi kemenangan atau tanda kepanikan? Pelatih akan berupaya memenangkan pertandingan dengan memasukkan pemain pengganti, mengubah formasi, bahkan meminta pemain untuk berpindah posisi.

Iklan

Politik juga perlu strategi. Saat citra lama mulai kehilangan daya tarik, gaya baru akan coba dimainkan. Yang dahulu tampil sederhana dan merakyat, sekarang malah membutuhkan panggung lebih besar, gelar secara adat, dan simbol sebagai kehormatan. Mungkin ini strategi baru dalam politik, akan tetapi perubahan strategi juga dapat dibaca sebagai tanda bahwa strategi lama mengalami kebuntuan atau sedang berusaha mengamankan kemenangan. Sebab, jika popularitas masih tinggi, mengapa perlu tambahan legitimasi melalui gelar secara adat atau budaya? Jika citra lama masih populer, mengapa harus memakai makna secara simbolik?