Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Di sinilah ironi itu muncul. Semakin meriah simbol dirayakan, semakin kabur gagasan dipahami. Peringatan yang seharusnya menghidupkan pemikiran Kartini justru kerap berhenti pada hal yang paling permukaan.
Merayakan yang Mudah
Budaya publik kita tampaknya memiliki kecenderungan tersendiri dalam merawat tokoh sejarah: menghadirkannya dalam bentuk yang lebih sederhana, lebih rapi, dan tentu saja lebih mudah dirayakan. Kartini pun kerap muncul sebagai figur yang anggun dan harmonis, seolah-olah kegelisahan yang terekam dalam surat-suratnya tidak lagi menjadi bagian penting dari dirinya.
Padahal, di dalam korespondensi itu tersimpan kritik terhadap feodalisme, praktik pingitan, dan keterbatasan pendidikan bagi perempuan—hal-hal yang tidak selalu nyaman untuk diangkat dalam suasana perayaan.
Sejak publikasi Door Duisternis tot Licht pada 1911—yang kemudian dikenal sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang—terlihat jelas bahwa pemikiran Kartini melampaui persoalan personal. Surat-surat tersebut memuat refleksi tentang ketidakadilan sosial yang lebih luas, termasuk struktur feodal dan kolonial yang menghambat kemajuan masyarakat.
Dalam kerangka itu, pendidikan ditempatkan sebagai jalan pembebasan, bukan sekadar sarana untuk meningkatkan status. Perempuan tidak dibayangkan sebagai pelengkap, melainkan sebagai subjek yang turut menentukan arah perubahan.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

