Pada akhirnya, pertanyaan penting dalam setiap peringatan Hari Kartini bukan terletak pada apa yang dikenakan, melainkan pada apa yang dikerjakan dan untuk siapa kontribusi diberikan. Kartini membayangkan perempuan yang berani, mandiri, dan berpihak pada kepentingan banyak orang. Standar ini jelas lebih menuntut dibandingkan sekadar partisipasi dalam seremoni tahunan.

Jika peringatan masih didominasi simbol tanpa perubahan yang lebih substantif, yang dirayakan bukan lagi Kartini sebagai pemikir, melainkan Kartini sebagai figur kultural yang aman. Padahal, kekuatan Kartini justru terletak pada gagasan yang belum sepenuhnya selesai diperjuangkan.

Merayakan Kartini secara lebih jujur berarti menggeser fokus dari representasi menuju transformasi. Perempuan Indonesia tidak hanya perlu hadir dalam simbol, tetapi juga dalam ruang pengambilan keputusan, dalam kerja sosial, dan dalam upaya membangun masyarakat yang lebih adil.

Iklan

Di sanalah Kartini menemukan relevansinya, bukan dalam kebaya yang dikenakan setahun sekali, tetapi dalam kerja yang memberi makna bagi sesama setiap hari. (*)