Sulit membayangkan Kartini akan merasa cukup dengan situasi semacam ini. Dalam pemikirannya, pendidikan bukan pelengkap, melainkan inti dari kemajuan. Ketika ruang belajar, kesejahteraan guru, dan kualitas pendidikan belum sepenuhnya menjadi perhatian utama, sementara energi publik diarahkan pada program yang tidak secara langsung membangun nalar dan kesadaran, ada jarak yang semakin lebar antara apa yang dirayakan dan apa yang diperjuangkan.

Barangkali jika Kartini hadir hari ini, ia tidak hanya akan menulis surat, tetapi juga mengajukan pertanyaan yang sama tajamnya seperti lebih dari seabad lalu: untuk apa kemajuan, jika akal budi tidak menjadi pusatnya? Dan seperti dulu, pertanyaan semacam ini mungkin tetap terasa tidak nyaman, justru karena terlalu dekat dengan kenyataan.

Perdebatan antara tradisi dan modernitas sering kali diletakkan secara terlalu sederhana. Seolah-olah menjadi perempuan modern berarti meninggalkan kebaya, atau mempertahankan tradisi berarti menolak kemajuan. Cara pandang seperti ini justru menyempitkan persoalan, karena persoalan utamanya bukan pada pilihan simbol, melainkan pada kedalaman makna yang kita bangun di baliknya.

Iklan

Kartini menunjukkan bahwa tradisi dapat dikritik tanpa harus ditinggalkan sepenuhnya. Identitas budaya tetap dapat hidup, selama tidak membatasi ruang gerak dan cara berpikir. Masalah muncul ketika simbol dijadikan representasi tunggal, sehingga makna menjadi beku dan kehilangan relevansi dengan realitas yang terus berubah. Dalam kondisi seperti itu, tradisi tidak lagi menjadi sumber kekuatan, melainkan sekadar pengulangan.