Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
SETIAP tanggal 21 April kita memperingati Hari Kartini untuk mengingat semangat perjuangannya, tetapi kerap luput memahami yang paling penting. Ruang publik dipenuhi kebaya, sanggul, dan seremoni yang menghadirkan Raden Ajeng Kartini sebagai simbol budaya yang anggun. Sekilas, semuanya terasa tepat: tradisi dirawat, identitas diteguhkan. Namun, justru di tengah kelengkapan simbol itu, ada kekosongan makna yang jarang dipersoalkan.
Masalahnya tidak terletak pada kebaya, tetapi pada cara kita memaknai Kartini. Ketika peringatan berhenti pada representasi, Kartini perlahan bergeser dari pemikir menjadi ikon. Padahal, yang diperjuangkan bukanlah estetika, melainkan kesadaran.
Dalam bagian pengantar suratnya kepada Estella H. Zeehandelaar (25 Mei 1899), Kartini menulis: “Saya ingin berkenalan dengan seorang gadis modern, yang berani, yang dapat berdiri sendiri… yang selalu bekerja tidak hanya untuk kepentingan dan kebahagiaan dirinya sendiri saja, tetapi juga berjuang untuk masyarakat luas, bekerja demi kebahagiaan banyak sesama manusia.” Kutipan ini menunjukkan bahwa modernitas, dalam pandangan Kartini, bukan soal gaya hidup, melainkan sikap etis: keberanian berpikir dan komitmen untuk berkontribusi bagi orang lain.



WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

