Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Namun, dalam praktik peringatan hari ini, gagasan sebesar itu sering kali hadir dalam bentuk yang lebih ringan. Kartini tetap dirayakan, tetapi dalam versi yang lebih mudah diterima: simbolis, representatif, dan tidak terlalu menuntut tafsir. Ada semacam kenyamanan dalam merayakan Kartini tanpa harus berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan.
Di sini, ironi kecil sulit dihindari. Semakin kuat simbol dihadirkan, semakin longgar kebutuhan untuk memahami. Perayaan berjalan dengan baik, tradisi tetap terjaga, tetapi sebagian persoalan yang dahulu digelisahkan Kartini masih tetap menyertai kehidupan kita: ketimpangan yang belum selesai, beban yang belum seimbang, dan ruang yang belum sepenuhnya setara. Dalam suasana seperti itu, merayakan yang mudah menjadi pilihan yang wajar—meski bukan tanpa konsekuensi.
Kerja sebagai Makna
Jika pada bagian sebelumnya kita melihat kecenderungan “merayakan yang mudah”, maka pertanyaan berikutnya menjadi lebih mendasar: bagaimana seharusnya Kartini dihidupkan hari ini?
Konsep “perempuan modern” yang ditulis Kartini memberi arah yang cukup jelas. Perempuan modern tidak berhenti pada pendidikan atau pekerjaan, melainkan menjadikan kerja sebagai bentuk kontribusi sosial. Kemandirian bukan tujuan akhir, melainkan dasar untuk memberi dampak bagi masyarakat luas. Modernitas, dengan demikian, tidak berhenti pada capaian pribadi, tetapi bergerak ke arah tanggung jawab sosial.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

