“Jangan ajar bertani di kelas, harus di kebun. Jangan ajar beternak di papan tulis, harus di kandang,” tegasnya.

Ia juga mendorong pemanfaatan lahan sekolah untuk produksi pangan guna mendukung kebutuhan dapur sekolah dan program makan bergizi.

“Tanam, pelihara, olah, lalu jual. Uang harus berputar di sekolah,” katanya.

Iklan

Selain itu, sekolah didorong mengembangkan unit usaha seperti peternakan skala besar hingga penginapan berbasis pendidikan, terutama bagi SMK dengan jurusan pariwisata.

Dukungan Daerah dan Pendidikan Vokasi

Wakil Bupati Ende, drg. Dominikus Minggu Mere, menyebut program ini sebagai langkah strategis dalam memperkuat kemandirian ekonomi berbasis sekolah dan masyarakat.

“NTT Mart menjadi etalase produk unggulan daerah, sementara Dapur Flobamorata menjadi laboratorium kewirausahaan siswa,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Ambrosius Kodo, menyebut Ende sebagai daerah kelima yang menjalankan program ini setelah Kota Kupang, Belu, TTU, dan TTS.

Ia menegaskan pentingnya pendidikan vokasi yang terhubung langsung dengan dunia kerja dan pasar.

“Kita targetkan minimal 50 persen lulusan bisa langsung bekerja. Itu bisa membantu satu keluarga keluar dari kemiskinan,” katanya.

Arah Baru Pembangunan NTT

Peluncuran NTT Mart dan Dapur Flobamorata menegaskan strategi Pemprov NTT dalam menggeser pola pembangunan dari konsumsi ke produksi, dengan sekolah sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.