Melki juga menyoroti pentingnya kegiatan seperti Pramuka sebagai bagian dari pembentukan karakter siswa.

Sekolah jadi Motor Ekonomi

Pilar ketiga, yakni kewirausahaan, menjadi fokus utama melalui program NTT Mart dan Dapur Flobamorata. Menurut Melki, langkah ini penting untuk menjawab persoalan defisit perdagangan NTT yang mencapai Rp51 triliun.

“Artinya kita lebih banyak membeli dari luar daripada memproduksi sendiri. Ini yang harus kita ubah,” katanya.

Iklan

Pemprov NTT membangun ekosistem ekonomi berbasis One Village One Product (OVOP), One Community One Product (OCOP), dan One School One Product (OSOP). Produk dari desa, komunitas, dan sekolah akan dipasarkan melalui NTT Mart, sementara Dapur Flobamorata menjadi pusat pengolahan kuliner lokal.

“Semua yang kita produksi harus kita beli sendiri. Kita harus jadi pelaku, bukan penonton,” ujarnya.

Sebagai upaya menciptakan pasar, pemerintah merancang kebijakan belanja ASN minimal Rp100 ribu per bulan untuk produk lokal. Namun, kebijakan tersebut masih menunggu kesiapan produksi.

“Kalau semua ASN beli, perputaran uang bisa Rp150 sampai Rp200 miliar per bulan,” jelasnya.

Dorong SMK Jadi Pusat Produksi

Melki menegaskan bahwa sekolah, khususnya SMK, harus menjadi pusat produksi nyata. Ia mendorong pembelajaran berbasis praktik langsung sesuai potensi lokal seperti pertanian, peternakan, dan pariwisata.