Kupang, RakyatNTT.ID – Pengalaman gempa bumi Flores pada 15 Agustus 2026 menjadi momentum bagi akademisi dan mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) untuk mendorong pembangunan rumah dan sekolah yang lebih aman terhadap bencana.

Bersama Program SIAP SIAGA, kemitraan Australia–Indonesia untuk Manajemen Risiko Bencana, tim Teknik Sipil UNWIRA memulai kajian lapangan yang ditargetkan menghasilkan tiga prototipe rumah rakyat dan satu prototipe sekolah tahan gempa.

Kajian ini diharapkan menjadi dasar pengembangan konstruksi yang aman, terjangkau, dan sesuai dengan kondisi lokal masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT).

Iklan

Kajian tersebut tidak sekadar berfokus pada pembangunan kembali bangunan yang rusak akibat gempa. Lebih dari itu, tim ingin memastikan rumah dan sekolah yang dibangun pada masa pemulihan memiliki ketahanan lebih baik ketika menghadapi guncangan di masa mendatang.

Dosen Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik UNWIRA, Ir. Rani Hendrikus, MS, menyampaikan hal tersebut dalam kegiatan pembekalan bagi mahasiswa dan dosen pendamping yang akan melakukan survei di tujuh kabupaten terdampak gempa Flores.

“Misi kita adalah menemukan alternatif rekayasa sederhana berbasis kondisi lokal agar masyarakat bisa bertahan (survive) saat gempa berikutnya terjadi,” kata Rani Hendrikus.

UNWIRA Identifikasi Penyebab Kerusakan Bangunan akibat Gempa

Untuk menghasilkan rekomendasi konstruksi yang tepat, tim peneliti akan menggunakan dua pendekatan utama dalam kajian lapangan.

Pertama, mengidentifikasi tipologi bangunan yang digunakan masyarakat. Aspek yang diamati meliputi bahan dinding, bentuk bangunan, sistem rangka atap, serta elemen struktur seperti kolom, balok, dan sambungan konstruksi.

Kedua, mendokumentasikan pola retak dan tingkat kerusakan bangunan akibat gempa. Data tersebut akan dianalisis bersama informasi tipologi bangunan untuk mengidentifikasi karakteristik konstruksi yang berpotensi meningkatkan risiko kerusakan ketika terjadi guncangan.

Hasil penggabungan kedua data tersebut diharapkan dapat menunjukkan jenis rumah yang paling rentan mengalami kerusakan berat hingga roboh.

“Dari penggabungan data tipologi dan pola kerusakan tersebut, kita dapat menyimpulkan tipe rumah mana yang paling rentan roboh. Data ini menjadi dasar statistik untuk merancang tiga prototipe rumah rakyat dan satu prototipe sekolah tahan gempa,” ujar Rani.

Tiga prototipe rumah yang direncanakan terdiri atas rumah berukuran kecil, sedang, dan besar. Desain tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif bagi masyarakat dengan kebutuhan ruang dan kemampuan pembangunan yang berbeda.

Sekolah Tahan Gempa jadi Perhatian Khusus

Selain rumah rakyat, pembangunan sekolah tahan gempa menjadi salah satu fokus penting dalam kajian ini.

Berdasarkan pengalamannya mengamati dampak berbagai gempa bumi di Indonesia selama lebih dari tiga dekade, Rani menilai kerusakan bangunan sekolah masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius.

Menurutnya, sekolah bukan hanya tempat berlangsungnya kegiatan belajar-mengajar, melainkan juga ruang penting bagi perlindungan dan keberlanjutan pendidikan anak-anak ketika bencana terjadi.

“Sekolah adalah tempat kita mendidik masa depan anak-anak kita. Melalui kajian ini, kami ingin melahirkan satu desain prototipe sekolah tahan gempa terstandar yang wajib diterapkan pemerintah dalam setiap pembangunan sekolah,” katanya.

Melalui prototipe tersebut, tim berharap tersedia rancangan yang dapat menjadi acuan dalam pembangunan sekolah yang lebih aman terhadap risiko gempa bumi.

Kualitas Material dan Praktik Konstruksi Turut Dikaji

Kajian UNWIRA dan SIAP SIAGA juga akan menyoroti kualitas material serta praktik konstruksi yang selama ini diterapkan masyarakat.

Beberapa aspek teknis yang menjadi perhatian meliputi mutu pasir, kualitas air yang digunakan dalam pekerjaan konstruksi, penggunaan tulangan baja, hingga metode pembangunan yang umum dilakukan di lapangan.

Faktor-faktor tersebut penting untuk dikaji karena keamanan bangunan tidak hanya ditentukan oleh desain, tetapi juga oleh kualitas material dan ketepatan pelaksanaan konstruksi.

Temuan lapangan nantinya diharapkan dapat diterjemahkan menjadi materi edukasi bagi masyarakat dan tukang bangunan mengenai prinsip-prinsip konstruksi tahan gempa yang sederhana, mudah dipahami, dan dapat diterapkan sesuai kondisi setempat.

Dengan demikian, pengetahuan mengenai bangunan aman bencana tidak hanya berhenti di lingkungan akademik, tetapi juga dapat dimanfaatkan masyarakat dalam membangun maupun memperbaiki rumah mereka.

Survei di Tujuh Kabupaten Terdampak Gempa Flores

Survei lapangan akan dilaksanakan di tujuh kabupaten di Pulau Flores, yakni Kabupaten Sikka, Ende, Nagekeo, Ngada, Manggarai Timur, Manggarai, dan Manggarai Barat.

Data yang dihimpun dari wilayah terdampak akan menjadi dasar penyusunan rekomendasi teknis pembangunan rumah dan sekolah aman bencana. Hasil kajian juga diharapkan dapat mendukung perumusan kebijakan pembangunan pascabencana yang lebih memperhatikan aspek keselamatan struktur.

Kolaborasi akademisi, mahasiswa, dan Program SIAP SIAGA ini menjadi bagian dari upaya mendorong pemulihan pascagempa yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga pada pengurangan risiko bencana di masa depan.

Pengalaman gempa Flores diharapkan dapat menjadi pelajaran penting bagi masyarakat dan pemerintah dalam memperbaiki standar pembangunan. Setiap temuan mengenai penyebab kerusakan bangunan dapat digunakan untuk mencegah kesalahan serupa, sementara penerapan konstruksi yang lebih aman diharapkan mampu mengurangi risiko korban jiwa ketika gempa kembali terjadi.

Pada akhirnya, keberhasilan pemulihan pascabencana bukan semata-mata diukur dari seberapa cepat rumah dan sekolah dibangun kembali, melainkan dari seberapa baik bangunan tersebut mampu melindungi kehidupan dan menjaga keberlangsungan pendidikan generasi mendatang. (*/rnc)