Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Kupang, RakyatNTT.ID – Upaya mendorong regenerasi petani berbasis teknologi mulai diperkuat di Kabupaten Kupang. Sebanyak 20 pelajar dan mahasiswa di Desa Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah, mendapat pelatihan penerapan smart farming untuk budidaya tanaman pakcoy.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat yang dilaksanakan tim pengabdian Universitas Nusa Cendana (Undana) selama Mei hingga November 2026.
Para peserta berusia 15 hingga 25 tahun dan berasal dari kalangan pelajar sekolah menengah serta mahasiswa. Mereka tidak hanya mendapatkan materi mengenai pertanian modern, tetapi juga terlibat langsung dalam pemasangan dan pengoperasian teknologi smart farming di lahan budidaya.
Dari 20 peserta, sebanyak 17 orang atau 85 persen merupakan laki-laki, sedangkan tiga peserta lainnya atau 15 persen adalah perempuan.
Peserta Belajar Langsung Pasang Sensor dan Irigasi Tetes
Pelatihan menggunakan pendekatan hands-on training, sehingga peserta dapat langsung mengenal sekaligus mengoperasikan komponen teknologi pertanian di lapangan.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mempelajari konsep dasar smart farming, pemasangan gardu kontrol, sensor kelembapan tanah dan suhu lingkungan, jaringan perpipaan, hingga sistem irigasi tetes.
Proses instalasi teknologi di lokasi budidaya berlangsung sekitar satu minggu.
Para peserta secara aktif terlibat dalam pemasangan gardu kontrol, sensor, jaringan perpipaan, serta sistem irigasi tetes yang nantinya digunakan untuk mendukung pertumbuhan tanaman pakcoy.
Pendekatan praktik langsung tersebut memberikan pengalaman kepada generasi muda untuk memahami bahwa teknologi pertanian tidak hanya dipelajari secara teori, tetapi dapat diterapkan secara langsung di lahan.
Smart Farming Pantau Kondisi Tanaman dan Atur Pengairan
Sistem smart farming yang diterapkan mengintegrasikan gardu kontrol dengan sensor kelembapan tanah, sensor suhu lingkungan, serta jaringan irigasi tetes.
Sensor digunakan untuk memberikan informasi mengenai kondisi lingkungan tanaman. Sementara itu, sistem irigasi tetes berfungsi menyalurkan air secara lebih terarah langsung ke area perakaran tanaman.
Pipa irigasi dipasang mengikuti arah bedengan dan dihubungkan menjadi satu kesatuan sistem pengairan. Dengan pola tersebut, pemberian air dapat dilakukan secara lebih terarah sesuai kebutuhan tanaman.
Setelah instalasi selesai, teknologi tersebut langsung diterapkan dalam proses budidaya pakcoy.
Bibit pakcoy terlebih dahulu disemai sebelum dipindahkan ke bedengan. Selanjutnya, tanaman dipelihara dengan memanfaatkan sistem irigasi yang telah dipasang.
Pada musim kemarau, penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari. Peserta kemudian bergiliran memantau pengoperasian sistem sekaligus mengamati perkembangan tanaman selama masa pemeliharaan.
Pakcoy jadi Media Belajar Pertanian Modern
Pakcoy dipilih sebagai komoditas dalam kegiatan tersebut karena memiliki masa budidaya relatif singkat sehingga cocok digunakan sebagai media pembelajaran pertanian modern bagi generasi muda.
Melalui praktik tersebut, peserta tidak hanya belajar menanam, tetapi juga memahami penggunaan teknologi dalam mengelola kebutuhan air dan memantau kondisi lingkungan tanaman.
Evaluasi keterampilan peserta mencakup kemampuan mengenali berbagai komponen smart farming, menjelaskan fungsi masing-masing perangkat, melakukan instalasi, mengoperasikan sistem, memantau sensor, memeriksa aliran irigasi, hingga mengidentifikasi gangguan sederhana.
Peserta juga dinilai berdasarkan kemampuan menerapkan sistem smart farming secara langsung dalam budidaya pakcoy.
Smart Farming Dorong Regenerasi Petani Milenial
Tim pengabdian Universitas Nusa Cendana menyebut kegiatan tersebut mendapat respons positif dari peserta. Antusiasme dan tingkat kepuasan peserta selama mengikuti pelatihan juga dinilai tinggi.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa teknologi smart farming berpotensi menjadi media pembelajaran yang efektif untuk memperkenalkan dunia pertanian kepada generasi muda.
Selain meningkatkan keterampilan teknis, penerapan teknologi juga dapat membuka perspektif baru bagi calon petani milenial mengenai pertanian yang lebih efisien, adaptif, dan berkelanjutan.
Namun, tim pengabdian menilai keberlanjutan manfaat program tetap membutuhkan pendampingan lanjutan. Pendampingan diperlukan agar keterampilan yang telah diperoleh peserta dapat diterapkan secara mandiri dan dikembangkan dalam kegiatan pertanian berikutnya.
Program di Desa Noelbaki tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa regenerasi petani tidak hanya membutuhkan minat generasi muda, tetapi juga pendekatan pembelajaran yang relevan dengan perkembangan teknologi.
Melalui smart farming, generasi muda diperkenalkan pada pertanian yang memadukan keterampilan bercocok tanam dengan kemampuan mengoperasikan teknologi, sehingga diharapkan dapat menjadi bagian dari transformasi pertanian di Kabupaten Kupang. (*/rnc)






WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan