“Selain ruangan belajar siswa, adapun sarana prasarana lainnya rusak berat, seperti gedung praktik siswa kompetensi keahlian Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian yang dibangun baru lima bulan harus mengalami retak dan plafon roboh akibat gempa yang terjadi pada 15 Agustus lalu,” jelas Theresia.

Sekolah Butuh Tenda dan Fasilitas Praktik

Untuk memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung dalam suasana yang aman dan nyaman, Theresia berharap pemerintah dapat membantu menambah tenda darurat.

Kebutuhan tersebut dinilai penting karena jumlah siswa yang harus mengikuti pembelajaran cukup banyak, sementara ruang kelas yang dapat digunakan masih terbatas.

Selain tenda, pihak sekolah juga membutuhkan dukungan untuk memulihkan fasilitas praktik siswa yang mengalami kerusakan.

“Kami sudah dapat tenda dari Kemendikdasmen satu buah, tapi itu belum cukup. Kalau tenda tidak ada, terpal sederhana juga bagus, supaya siswa bisa nyaman dan tidak kepanasan saat belajar,” harapnya.

Semangat siswa SMKN 1 Aesesa untuk kembali belajar menjadi gambaran ketangguhan generasi muda Nagekeo setelah gempa bumi.

Di tengah ruang kelas yang retak, plafon yang roboh dan keterbatasan fasilitas, mereka memilih tetap datang ke sekolah. Di bawah tenda darurat maupun rindangnya pepohonan, buku kembali dibuka dan pelajaran kembali dimulai.