Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
RELAWAN Rote Mengajar pertama kali hadir pada 2015, membawa semangat, buku, dan cerita dari dunia luar ke Rote Ndao. Namun perjalanan itu sempat terhenti — dan baru pada 2026 ini, lebih dari satu dekade kemudian, program itu kembali dihidupkan.
Jeda panjang ini semestinya menjadi ruang refleksi, bukan sekadar melanjutkan dari titik yang sama. Dulu, anak-anak berkumpul, mata mereka berbinar, foto-foto diambil, lalu relawan pulang.
Kini, setelah belajar dari jeda satu dekade itu, pertanyaannya bukan lagi sekadar “apa yang tersisa setelah mereka pergi”, melainkan: bagaimana memastikan kebangkitan kali ini benar-benar berakar, agar tidak berhenti lagi di tengah jalan?
Selama ini banyak program relawan berhenti pada level “inspirasi sesaat” — membuat anak-anak bermimpi menjadi dokter, pilot, atau presiden, lalu meninggalkan mimpi itu tanpa akar. Padahal Rote tidak kekurangan mimpi. Yang dibutuhkan Rote adalah SDM yang bangkit dari kesadaran akan dirinya sendiri: anak-anak yang bangga menjadi orang Rote sekaligus siap bersaing di panggung dunia.
Relawan Boleh dari Mana Saja, tapi Materinya Harus Mendarat di Rote
Kehadiran relawan kali ini datang dari berbagai penjuru: diaspora Rote yang merantau dan kini pulang untuk mengabdi, hingga putra-putri daerah lain seperti Sabu, Manggarai, Jakarta, bahkan Malaysia.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan