Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Meja dan kursi mulai terisi menjelang jam pelajaran. Karena jumlah fasilitas terbatas, tidak semua siswa dapat belajar di dalam tenda.
Sebagian memilih duduk di bawah naungan pohon agar tetap dapat mengikuti pembelajaran dalam kondisi yang lebih nyaman.
Ketika udara mulai panas dan keringat membasahi tubuh, para siswa tetap berusaha bertahan. Mereka terus menulis dan mengikuti pelajaran hingga bel tanda berakhirnya kegiatan belajar berbunyi.
Senyum perlahan mulai terlihat di wajah para siswa. Di tengah rasa takut dan trauma, semangat untuk kembali belajar menjadi tanda bahwa kehidupan sekolah mulai bangkit.
Masih Trauma, Siswa Minta Tambahan Tenda
Maria Ernestiara Gowa, salah satu Ketua OSIS SMKN 1 Aesesa, mengatakan para siswa hingga kini masih merasakan trauma akibat gempa.
Kondisi ruang kelas yang mengalami kerusakan membuat mereka harus menjalani proses pembelajaran di tempat sementara.
“Sampai saat ini kami masih trauma, kenapa kami harus memilih belajar di tenda, karena ruangan kelas kami banyak yang rusak dan retak,” ungkap Maria.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan