Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Ia berharap Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dapat membantu menambah tenda darurat untuk kegiatan belajar mengajar.
Menurut Maria, jumlah tenda yang tersedia belum sebanding dengan jumlah siswa yang harus mengikuti pembelajaran.
Sebagian siswa lainnya memilih mengikuti pembelajaran dari rumah. Namun, tidak sedikit yang tetap datang ke sekolah dan belajar bersama teman-temannya di tenda darurat.
Di tengah kondisi tersebut, para siswa berharap pemerintah, tenaga medis dan pihak terkait turut memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis siswa maupun guru yang masih menghadapi trauma pascagempa.
Gedung Praktik yang Baru Dibangun Ikut Rusak
Kepala SMKN 1 Aesesa, Theresia Uta, mengatakan sekolah tersebut telah berdiri sejak 1999. Gempa Magnitudo 7,7 yang mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026 menyebabkan sejumlah bangunan dan fasilitas sekolah mengalami kerusakan.
Tidak hanya ruang belajar siswa, fasilitas praktik juga terdampak.
Salah satu yang mengalami kerusakan adalah gedung praktik siswa untuk kompetensi keahlian Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian.
Ironisnya, gedung tersebut baru dibangun sekitar lima bulan sebelum gempa terjadi. Namun, bangunan tersebut mengalami retak pada sejumlah bagian dan plafonnya roboh akibat guncangan gempa.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan