Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Masyarakat merasa sedang menyaksikan penghormatan adat, padahal pada saat yang sama sedang diarahkan untuk membangun persepsi bahwa tokoh tersebut memiliki kedekatan historis, emosional bahkan spiritual dengan komunitas adat. Inilah bentuk kekuasaan simbolik yang bekerja secara halus yaitu melalui penerimaan sukarela terhadap representasi budaya yang telah dipolitisasi.
Situasi tersebut menjadi semakin problematis dengan perdebatan keliru terkait penobatan “Raja” atau “Sesepuh” dalam ruang media sosial, tanpa disadari Masyarakat NTT dijerat dalam diskursus demi kepentingan agitasi dan propaganda, hal ini berbanding terbalik dengan dinamika internal di kalangan lembaga adat mengenai proses penyematan gelar tersebut.
Salah satu keturunan Raja Amanuban Pina Ope Nope (dikutip dari RRI Kupang ) menegaskan bahwa tidak ada kesepakatan kolektif dalam penobatan raja, Raja-raja hanya diundang untuk menyampaikan ucapan selamat datang kepada tamu kehormatan.
Sedangkan kepada media youtube suara harapan Dominicus Kloit Tey Seran dari Kerajaan Liurai Malaka mengatakan bahwa kedatangan mereka karena diundang oleh Bapak Jokowi melalui ketua DPW PSI NTT dan bersepakat untuk menandatangani selembar kertas untuk mengundang Jokowi.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan