Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
So’E, RakyatNTT.ID – Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) terus memperkuat kapasitas para vikaris sebagai calon pelayan yang tidak hanya memiliki kemampuan teologi dan pastoral, tetapi juga mampu menjadi penggerak kemandirian ekonomi jemaat.
Upaya tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Pengembangan Swadaya Masyarakat (PSM) yang diikuti 90 vikaris GMIT di Agroekowisata Loli, Kecamatan Amanuban Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).
Pelatihan yang berlangsung selama lima hari tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi para vikaris untuk memahami pemberdayaan jemaat secara lebih utuh.
Mereka tidak hanya diajak melihat kemiskinan dari sisi ekonomi, tetapi juga memahami pentingnya spiritualitas, manajemen, keterampilan, dan pengorganisasian masyarakat.
Program PSM merupakan salah satu gagasan strategis yang telah dikembangkan GMIT sejak beberapa dekade lalu. Melalui kegiatan ini, gagasan tersebut kembali diperkuat agar dapat diterapkan secara konkret dalam konteks pelayanan jemaat.
GMIT Dorong Pemberdayaan Berbasis Spiritualitas
Sekretaris Sinode GMIT, Pdt. Lay Abdi K. Wenyi, dalam suara gembalanya menegaskan bahwa pembekalan tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan para vikaris menghadapi masa depan pelayanan GMIT.
Menurutnya, gereja tidak hanya dipanggil untuk memberikan pelayanan spiritual, tetapi juga harus hadir menjawab persoalan nyata yang dihadapi jemaat, termasuk kemiskinan, persoalan ekonomi, dan ketahanan pangan.
“Pemberdayaan ekonomi yang dilakukan oleh gereja harus berakar kuat pada nilai-nilai spiritualitas. Pendekatan ini membedakan peran gereja dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) lainnya atau paham teologi kemakmuran,” tegas Pdt. Lay.
Ia menjelaskan, pemberdayaan ekonomi jemaat tidak dimaksudkan untuk membawa gereja pada orientasi kapitalisme atau menjadikan keberhasilan ekonomi sebagai ukuran utama kehidupan iman.
Sebaliknya, pemberdayaan diarahkan untuk membangun daya tahan jemaat agar mampu menghadapi kemiskinan, mengembangkan potensi lokal, dan secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap bantuan dari luar.
Dengan pendekatan tersebut, gereja diharapkan dapat menjadi komunitas yang mampu mengembangkan potensi lokal sekaligus menumbuhkan semangat gotong royong, tanggung jawab, kreativitas, dan kemandirian ekonomi.
Vikaris Dibekali Spiritualitas hingga Keterampilan Praktis
Selama lima hari pelatihan, para vikaris memperoleh pembekalan dalam tiga aspek utama, yakni spiritualitas pelayanan, kecakapan manajemen, dan keterampilan pemberdayaan masyarakat.
Pada aspek spiritualitas dan karakter pelayanan, peserta mendapatkan materi Etika Seorang Pelayan, Spiritualitas Seorang Pelayan, Menjadi Pelayan yang Setia, serta Hak dan Kewajiban Pelayan GMIT.
Sementara dalam aspek manajemen, para vikaris dibekali pengetahuan tentang Administrasi dan Surat-Menyurat Gereja, Perbendaharaan GMIT, serta Digitalisasi Administrasi dan Data Jemaat.
Pembekalan tersebut ditujukan agar para calon pelayan memiliki kemampuan mengelola pelayanan secara tertib, transparan, efektif, dan bertanggung jawab.
Dalam bidang teologi dan pengembangan pelayanan, materi yang diberikan meliputi Peran Gereja dalam Pemberdayaan Ekonomi Jemaat, Menyiapkan dan Menyampaikan Khotbah IPI, Pelatihan Khotbah Langham, Merencanakan Program Berbasis HKUP, Metode Studi Kasus, serta Meditasi.
Belajar Model Usaha Berbasis Potensi Lokal
Tidak hanya mendapatkan materi teoritis, para vikaris juga memperoleh pengalaman pembelajaran praktis mengenai berbagai model pemberdayaan yang dapat diterapkan sesuai potensi lokal jemaat.
Sejumlah materi yang diperkenalkan antara lain Budikdamper Aquaponik, rekayasa pakan ternak ayam dan babi, teknologi limbah sebagai sumber energi, pembuatan bokashi padat, budidaya Pepaya California, serta Tekno Pangan.
Materi tersebut diharapkan menjadi bekal bagi para vikaris untuk membaca dan mengidentifikasi potensi ekonomi yang ada di lingkungan jemaat.
Dengan demikian, pelayanan gereja tidak berhenti pada aktivitas administratif maupun ritual, tetapi turut membuka ruang bagi jemaat untuk mengembangkan sumber daya yang tersedia di sekitarnya.
Vikaris Didorong Membawa Perubahan ke Jemaat
Pdt. Lay menekankan bahwa keberhasilan pelatihan tidak semata-mata diukur dari banyaknya materi yang diterima peserta.
Hal yang lebih penting adalah sejauh mana pengetahuan tersebut dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata di tempat pelayanan masing-masing.
Karena itu, para vikaris didorong membawa semangat PSM ke jemaat masing-masing dengan mengidentifikasi potensi lokal, membangun kelompok pemberdayaan, dan mengajak jemaat bekerja bersama untuk meningkatkan kehidupan ekonomi.
Penerapan program pemberdayaan tersebut juga menjadi bagian penting dalam melihat kesiapan para vikaris memasuki medan pelayanan berikutnya.
Dengan kata lain, GMIT ingin menyiapkan pelayan yang tidak hanya mampu berkhotbah dan memberikan pelayanan pastoral, tetapi juga memiliki kemampuan menjadi penggerak perubahan dan kemandirian di tengah jemaat.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua Majelis Klasis Mollo Timur Pdt. Zadrak Malailak, Ketua Badan Pengelolaan Aset dan Pemberdayaan Ekonomi Pdt. Yunus Kay Tulang, serta Sekbid Pengembangan Personil Majelis Sinode GMIT Pdt. Jacob Eklemeus Niap.
Seluruh rangkaian Pelatihan PSM Vikaris GMIT dijadwalkan ditutup melalui ibadah bersama seluruh peserta di Jemaat Eklesia Loli pada Minggu (30/8/2026).
Melalui pelatihan ini, GMIT berharap lahir generasi pelayan yang mampu menghadirkan gereja sebagai komunitas yang berdampak bagi kehidupan jemaat, memiliki kecakapan dalam manajemen pelayanan dan pemberdayaan ekonomi, serta tetap berakar kuat pada spiritualitas. (*/rnc)






WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan