Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Filosofi bermain sepak bola dibangun dari kurikulum, bukan sekadar diwariskan oleh tradisi. Negara-negara seperti Jerman, Italia, Prancis, Inggris dan Spanyol membuktikan bahwa pengelolaan sepak bola dengan sistem harus terkoneksi.
Negara-negara eropa ini terbukti memiliki kompetisi sepak bola lokal yang begitu kuat. Untuk sepak bola modern, saya mengambil contoh, Spanyol, negara Eropa yang baru mengangkat trofi pertama piala dunia tahun 2010 karena membangun sistem akademik yang melahirkan generasi terbaik seperti Xavi Hernandes, Inesta, Pique, Busquest, hingga Yamal dari Akademik La Masia Barcelona, Raul Gonzales, Casillas, Carvarjal dari La Fabrica Real Madrid.
Menariknya Messi sebagai legenda Argentina, menjadi simbol dari dua bentuk tersebut. Lahir dengan kewarganegaraan Argentina, tetapi dibentuk dari akademik milik Barcelona. Messi membuktikan bahwa bakat besar memerlukan sistem agar dapat mencapai puncak.
Karena itu dalam sepak bola modern saat ini, budaya dan sistem bukanlah dua kutub yang saling bermusuhan. Sebab budaya melahirkan mimpi, sedangkan sistem mampu mengubah mimpi menjadi prestasi.
Prestasi yang dibangun melalui budaya dan sistem ini kemudian berkembang menjadi industri olahraga terbesar di dunia. Sepak bola saat ini bukan sekedar pertandingan, melainkan tentang ekonomi global. Gaji pemain dan nilai transfer dapat mencapai triliunan rupiah, hak siar televisi yang diperebutkan berbagai media, sponsor, pariwisata, penjualan merchandise, hingga ekonomi digital bergerak mengikuti turnamen besar.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan