Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Dominasi sepak bola oleh negara-negara Eropa dan konsistensi Amerika Latin sesungguhnya dibentuk dalam dua filosofi yang berbeda. Eropa membangun sepak bola melalui sistem yang terbentuk dengan baik, sedangkan Amerika Latin membesarkan sepak bola lewat budaya.
Bagi anak-anak laki-laki Brazil, Argentina, dan Uruguay sepak bola adalah identitas. Akademik tersedia untuk merekrut pemain yang berbakat, tetapi sejatinya anak-anak ini mengenal sepak bola dari jalanan, gang-gang sempit, dan pantai.
Mereka memainkan sepak bola dengan gaya khas seperti jogo bonito Brazil, Viveza Criloa dari Argentina dan Garra Charrua dari Uruguay menjadikan tiga negara Amerika Latin ini yang dapat mengangkat piala paling bergengsi dalam sepak bola.
Bagi keluarga di Amerika Latin, sepak bola bukan hanya sekedar hiburan, melainkan harapan. Anak laki-laki tumbuh dengan keyakinan bahwa kemampuan memainkan bola adalah cara keluar dari kemiskinan. Karena itu dari budaya tersebut bintang besar seperti Pele, Maradona, Ronaldo Nazario, Ronaldinho, dan Messi muncul.
Negara-negara Eropa memilih jalan yang lebih sistematis. Prestasi tidak hanya ditentukan oleh bakat, tetapi dibentuk oleh sistem dalam institusi berupa akademik. Anak-anak mulai direkrut sejak usia dini, ditempatkan dalam pembinaan akademik sesuai kelompok usia, mereka kemudian diajari teknik, taktik, diberikan nutrisi yang baik, pendampingan psikolog, hingga kepelatihan modern.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan