Di sisi lain, investor juga mencermati data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan inflasi masih relatif tinggi. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS atau The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal I 2026 direvisi turun menjadi 1,6 persen dari proyeksi sebelumnya sebesar 2 persen. Data ketenagakerjaan juga menunjukkan peningkatan klaim pengangguran awal yang menambah dinamika pasar global.

Capital Outflow dan Tingginya Permintaan Dolar AS

Kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat mendorong investor global memindahkan dana ke instrumen keuangan AS yang dinilai lebih aman dan menawarkan imbal hasil menarik.

Iklan

Fenomena capital outflow tersebut turut menekan pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.

Selain itu, tingginya harga minyak dunia meningkatkan kebutuhan impor energi sehingga permintaan dolar AS untuk pembayaran impor ikut melonjak. Kondisi tersebut diperparah oleh melambatnya ekspor yang menyebabkan pasokan dolar di dalam negeri menjadi lebih terbatas.

Permintaan dolar AS juga meningkat karena kebutuhan pembayaran dividen korporasi, impor rutin, serta sentimen pasar terhadap kondisi fiskal nasional dan pasar keuangan domestik.

Rupiah Berpotensi Tembus Rp18.000 per Dolar AS

Berdasarkan analisis yang dilakukan, Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan Rupiah pada pekan depan masih akan berada dalam tren melemah.